Sabtu, 18 Desember 2021

Nama Negaranya Netherland, Tapi Kok Kita Sebut Belanda?

Nama Belanda sepertinya tidak asing lagi ditelinga bangsa Indonesia. Dalam sejarah Tanah Air, Belanda kita kenal sebagai negara yang telah menjajah Indonesia.

Mungkin telah bertahun-tahun kita mengenal Belanda sebagai nama sebuah negara. Tapi tahukah kamu? bahwa Belanda sesungguhnya bukan nama resmi secara internasional yang dipakai negara itu.

Banyak orang baru menyadari hal ini ketika sedang menonton pertandingan sepakbola internasional. Misalnya Belanda vs Yunani. Di televisi tertera nama Netherlands vs Greece. Nah loh, kok jadi beda banget?

Mengapa orang Indonesia khususnya, menyebut Belanda, Yunani, Mesir. Padahal ketiga nama tersebut memiliki nama lain secara internasional. Misalnya kita mengenal Mesir, tapi dunia internasional mengenal negara asal Mohamed Salah tersebut sebagai Egypt.

Itu karena, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka dan mudah beradaptasi dengan bahasa asing. Artinya, bahasa Indonesia dapat menyesuaikan dengan bentuk (fonologi) bunyi bahasa asing.

Misalkan nama negara berawalan C disesuaikan lafal bahasa Indonesia menjadi K. Seperti Colombia dan Canada menjadi Kolombia dan Kanada.

Tapi bila Netherlands menjadi Belanda memang membingungkan. Dari Mana jalannya?

Netherlands merupakan nama internasional dari Belanda. Masyarakat dunia juga sering menyebutnya sebagai Holland. Bahkan lebih populer Holland daripada Netherlands. Padahal Holland merupakan satu bagian dari Netherlands. Kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag ada di Holland Selatan dan Utara. Seperti halnya masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia.

Begitupun di Nusantara awalnya juga lebih mengenal nama Holland. Hanya saja pengucapannya bervariasi.

Antara lain, Wolanda (Hikayat Tanah Hitu, 1650), Welanda (Syair Hemop, 1750), Walanda (Warkah Sumatera Barat, 1793-1795), Olanda (Hikayat Maharaja Marakarma, 1844), Holanda (Carita Bangka, 1861), serta Belanda (Majalah Guru, 1931).

Kamu mungkin saja berpikir Holland menjadi Wolanda kemudian jadi Belanda merupakan Cocokologi saja. Padahal tidak juga. Memang kira-kira begitulah bahasa. Sifatnya abritrer alias mana suka. Disesuaikan lidah dari penuturnya.

Tidak ada aturan baku dalam penyebutan nama negara dalam bahasa tertentu. Semuanya dikembalikan pada masyarakat penutur.

Jika ada sebuah negara yang nama internasional sesuai dengan pelafalan bahasa Indonesia, maka tidak ada perubahan. Seperti Iran dan Malaysia.

Kemudian ada nama negara yang ejaannya disesuaikan namun pelafalannya tetap sama. Seperti Irak (Iraq) dan Kosta Rika (Costa Rica).

Lalu Ejaan dan lafal disesuaikan bahasa Indonesia, seperti Prancis (France), Singapura (Singapore) dan Jerman (Germany). Terakhir penyebutan nama negara dengan cara diterjemahkan. Seperti Pantai Gading (Ivory Coast), Selandia Baru (New Zealand) dan Korea Selatan (South Korea).

Dalam kondisi khusus memang penyebutan nama negara dalam bahasa Indonesia memang membingungkan. Belanda (Netherland), Mesir (Egypt) dan Yunani (Greece).

Tentang Belanda sudah dijelaskan di atas. Beda dengan Mesir dan Yunani. Bahasa Indonesia meresap nama kedua negara tersebut dari bahasa Arab. Kedekatan kultural dan sejarah yang menjadi faktornya.

Tidak ada yang salah dengan ini. Justru bangsa Indonesia yang lebih dulu mengenal nama Mesir dan Yunani yang diambil dari bahasa Arab. Dibandingkan Bangsa Barat yang mengenal Egypt dan Greece.

Namun sekali lagi, tidak ada yang salah dalam penyebutan nama negara. Tentu selama itu tidak ada unsur menghina negara atau pihak tertentu.

Kamis, 16 Desember 2021

Langkah-langkah yang Seharusnya Dilakukan Saat Kecewa?

Rasanya hampir setiap orang di dunia ini pernah yang mengalami kecewa. Ya, itu sangat manusiawi. Terlebih saat Pandemi sekarang ini di tahun 2020. Banyak rencana dan harapan harus pupus di tahun ini. Kecewa? Sudah pasti.

Tapi disinilah kita hidup. Kecewa tentu ada. Tapi hidup tetap berjalan. Sebisa mungkin kita jangan biarkan rasa kecewa itu terus berlarut.

Saat sedang kecewa, memang ada rasa ingin balas dendam kepada orang yang membuat kecewa. Tenang! Lebih baik kamu simak dulu Langkah-langkah apa saja yang sebaiknya dilakukan saat sedang kecewa.

Terima Rasa Kecewa tersebut

Kecewa memang sangat menyakitkan. Tapi tidak ada salahnya untuk menerima rasa sakit itu. Daripada membohongi diri sendiri di balik senyuman, walau sedang kecewa. Justru itu bikin rasa sakit tersebut semakin parah. Lebih baik terima keadaan dan coba ikhlas.

Menangis Saja, jangan ditahan

Setiap orang mungkin masih kuat menutupi rasa kecewa di depan orang lain. Tapi ada kalanya disaat sedang sendiri, pertahanan "pura-pura bahagia" tersebut runtuh. Pengen nangis? Mengapa gak?! Menangis saja, jangan ditahan.

Menangis juga punya sisi positif. Agar semuanya plong. Tapi setelahnya, berjanjilah untuk tidak mengulangi lagi perbuatan tersebut.

Ingat! Setiap orang punya kisahnya masing-masing dan jangan merasa diri paling menderita Sedunia

Tidak ada yang menyangkal betapa menyakitkannya rasa kecewa. Tapi saat kamu sedang kecewa, ingatlah! Kamu tidak sendiri. Jangan berpikir kamu menjadi orang yang paling menderita sedunia. Tanpa bermaksud meremehkan rasa kecewa setiap orang. Namun kita tetap harus bergerak dengan melakukan langkah-langkah yang tepat saat sedang kecewa.

Lakukan hal yang menyenangkan

Memendam rasa kecewa tidak ada gunanya. Hari ini mungkin kamu sedang kecewa, silahkan bersedih. Tapi kamu juga ingin bahagia, bukan?

Bahagia itu bermula dari apa yang kamu pikir dan lakukan. Salurkan rasa emosi akibat kecewa pada kegiatan yang positif. Bisa makan makanan favorit, main games, bermusik, liburan. Berhubung Pandemi Covid-19, lakukanlah kegiatan yang menyenangkan dan positif sesuai protokol kesehatan ya.

Evaluasi harapan

Kecewa itu ada, karena kenyataan yang tidak sesuai harapan. Ketika harapan hanya menjadi angan-angan, rasanya memang sangat menyakitkan. Terlebih bila sudah sangat berharap dan 99% lagi tercapai, namun kenyataannya berkata sebaliknya.

Segera lakukan evaluasi terhadap daftar harapan yang kamu miliki. Boleh jadi bukan ketidakmampuan kamu menggapai harapan. Namun harapanmu yang salah. Cobalah mengevaluasi harapan dengan lebih realistis dan tepat.

Cerita pada teman, keluarga atau orang terdekat

Pada akhirnya kita hanya makhluk sosial, yang membutuhkan peran orang lain dalam menjalani hidup. Beban hidup terlalu berat jika hanya diemban sendiri.

Berbagi kisah sedih pada orang lain memang sederhana itu. Cukup cerita saja apa keluh kesahmu pada orang terdekat, terpercaya dan tepat. Karena cukup berbagi kesedihan pada orang yang tepat, rasanya sudah cukup mengurangi beban tersebut.

Sebaiknya jangan terlalu berharap orang lain akan menyelesaikan masalahmu. Justru itu akan menambah beban. Karena kita jadi berharap lagi, takutnya tidak sesuai harapan dan kecewa lagi.

Mengambil sisi positif

Mungkin ini terdengar klise. Tapi kita sedang tidak dalam posisi menawar. Saat sedang kecewa. Tentu celah sedikit saja untuk bangkit, seharusnya diusahakan sekeras mungkin. Gak usah banyak alasan.

Saat keadaan menjadi kacau balau tak menentu. Cobalah untuk tenang dan berpikir. Apa makna dibalik semua ini? Apakah masih ada sisa kebahagiaan?

Yakinlah tetap ada sisi positif, ada hikmah di setiap peristiwa. Mulai dengan selalu berpikir positif. Jangan sisakan ruang untuk berpikir negatif, karena itu akan memperparah. Seperti dijelaskan di atas, tidak ada tawar menawar lagi. Dunia tidak terbagi atas orang optimis dan pesimis. Orang-orang optimis lah yang berhak menggenggam dunia. Maka itu berusahalah untuk itu.

Singkirkan teman yang membawa dampak negatif

Dalam bergaul memang tidak baik untuk pilih-pilih teman. Sebisa mungkin kita berteman dengan banyak orang. Tapi banyak teman, bukan sekedar banyak secara jumlah. Namun pilihlah pergaulan secara tepat dan membawa dampak positif bagi kedua belah pihak.

Saat kita menangis karena kecewa. Setelahnya itu juga, berjanjilah untuk tidak melakukan hal yang sama. Artinya jangan biarkan kamu disakiti lagi, jangan biarkan orang lain menyakitimu lagi. Menjauh dan singkirkan orang atau teman membawa dampak negatif.

Untuk mengatasi rasa kecewa itu perlu kesabaran untuk pulih. Tidak bisa simsalabim menjadi tegar dan kuat. Karena ini soal perasaan. Nikmati aja dulu diawal-awal, dan jadikan pembelajaran. Oh seperti ini hidup. Mungkin salahnya ada pada dirimu, orang lain dan lingkungan. Dengan begitu kita dapat meminimalisir kejadian serupa di lain waktu. Sekiranya itu lebih baik, ketimbang pura-pura tegar dan bahagia. Tapi terus terjadi berulang kali.

Selasa, 14 Desember 2021

Mengapa Orang "Bodoh" Bisa Lebih Sukses dari Orang Pintar?

Sebelumnya mohon perhatian, jika kamu merasa memiliki kesamaan dalam isi artikel ini. Sesungguhnya tidak ada maksud mengkotak-kotakan antara "si bodoh" dan "si pintar".

Penilaian atas tingkat kepintaran seseorang sesungguhnya sangat relatif. Penilaiannya tergantung dari sudut pandang masing-masing orang. Dan umumnya pintar dan bodoh dinilai secara akademik.

Sekalipun seseorang telah divonis "bodoh" saat di sekolah. Bukan berarti dunianya berakhir. Bahkan tidak jarang, mereka yang terlihat biasa-biasa saja waktu di sekolah, namun saat bekerja justru menjadi lebih baik.

Tolong jangan salah sangka bahwa menjadi pintar di sekolah tidak ada gunanya, dikarenakan ada orang yang nilai akademiknya biasa-biasa saja justru lebih sukses. Tapi perlu diingat, mereka yang terlihat bodoh di sekolah bisa sukses karena usahanya sendiri. Jadi jangan langsung disama ratakan bahwa bagus secara akademik, tidak lantas menjamin sukses secara keseluruhan, juga sebaliknya.

Tanpa diketahui banyak orang, mereka yang memiliki nilai akademik tidak terlalu baik punya trik dan rahasia khusus saat merintis karir. Seperti apa ya, disimak yuk!

Mudah bersosialisasi

Orang sukses tidak mutlak merupakan orang yang pintar atau yang paling jago melakukan sesuatu hal. Tak sedikit orang yang pintar kesulitan dalam bersosialisasi. Padahal hal tersebut dibutuhkan dalam sebuah kesuksesan. Orang yang mudah bersosialisasi, biasanya lebih mudah mendapat pekerjaan, sekalipun dia tidak terlalu pintar. Namun perlu diingat, ketika koneksi ke dunia kerja sudah didapat. Keuletan bekerja tetaplah yang utama.

Tidak malu mempromosikan diri

Tidak peduli pintar atau biasa-biasa saja seseorang tersebut. Mempromosikan diri, tampil ke depan dan percaya diri menunjukkan diri kehadapan orang banyak, merupakan hal penting dalam menunjang karir. Hanya saja sebagian orang yang merasa pintar, mempromosikan diri itu merupakan perbuatan yang memalukan. Sementara orang yang biasa-biasa saja, tidak ragu dalam mempromosikan dirinya.

Gak malu minta bantuan

Kesuksesan itu memang dapat diraih dengan kerja kerasmu. Apalagi jika mendapat bantuan dari orang lain, tentu pekerjaan jadi lebih mudah. Sukses merupakan perpaduan antara membantu dan dibantu, seperti itulah kolaborasi. Sayangnya bagi mereka yang sudah merasa ahli, terasa sungkan untuk meminta bantuan. Sebaliknya orang yang terlihat biasa-biasa saja, biasanya tidak sungkan meminta bantuan agar lebih memudahkan tugasnya dan peluang untuk sukses lebih besar.

Aksi saja dulu

Memikirkan segala sesuatunya secara matang-matang memang bagus, agar rencana berjalan baik dan meminimalisir resiko. Tapi kalau hanya kebanyakan mikir tanpa ada eksekusi, gimana dong, gak bakal kemana-kemana.

Bagi mereka yang nilai akademiknya biasa-biasa, biasanya mereka gak terlalu suka berpikir terlalu lama. Kenapa gak untuk memulai saja? Ya langsung aksi saja. Itulah sebabnya mereka yang biasa-biasa saja terlihat lebih sukses dibandingkan mereka yang terlihat pintar.

PeDe aja

PeDe alias percaya diri. Kepercayaan pada diri sendiri diperlukan untuk sebuah kesuksesan. Tanpa memandang bodoh atau pintar seseorang tersebut.

Kepercayaan diri muncul sebab seseorang yakin pada dirinya sendiri. Terkadang orang tidak yakin pada dirinya, meskipun sebenarnya mampu. Tapi karena terlalu banyak berpikir dan obsesi terlihat sempurna, justru jadi sudah maju.

Sementara orang yang biasa-biasa saja, lebih berani dan percaya diri. Terpenting ialah usaha untuk mempersiapkan diri, jika akhirnya belum berhasil, maka itu wajar dan bisa dicoba lagi.

Pada akhirnya, kesuksesan itu tidak memandang seberapa tinggi tingkat kepintaran seseorang. Kesuksesan bisa diraih seseorang karena perilaku dan kepribadiannya. Yakin saja bahwa diri sendiri sanggup untuk melakukan apa yang perlu dan disenangi.

Mengapa Orang-orang Hidupnya Selalu Beruntung?

Keberuntungan? Siapa sih yang tidak mau mendapatkan nikmat Tuhan yang satu ini. Umumnya orang ingin keberuntungan dalam hidupnya. Meskipun hari ini kegagalan yang didapati, namun akan selalu ada harapan besok hari, lusa, minggu depan, bulan depan, bahkan tahun baru, berharap keberuntungan baru akan segera hadir.

Namun inilah hidup. Tidak selamanya selalu beruntung. Sampai terkadang terbesit pikiran heran ketika melihat ada orang yang hidupnya hampir selalu dinaungi keberuntungan. Nasibnya mujur terus.

Mengapa demikian? Adakah rahasianya? Nyatanya keberuntungan bukan semata duit segepok yang kita temukan di pinggir jalan, dapat flash sale dan sebagainya. Melainkan keberuntugan merupakan sebuah proses yang bisa kita usahakan secara logis.

Jadi bagi kamu yang sering sial, jangan gampang menyerah dulu. Menurut penelitian yang dilakukan Profesor Richard J. Wiseman, seorang psikolog dari Universitas Hertfordshire di Inggris. Orang-orang yang kerap beruntung dalam hidupnya, bukanlah mereka berdiam diri saja lalu mengharap segalanya jatuh dari langit. Akan tetapi ada pola atau kebiasaan yang tidak dilakukan oleh orang yang sering mengalami sial.

Orang-orang yang sering sial juga bisa mengalami keberuntungan jika mereka melakukan sesuatu kebiasaan dari orang yang beruntung.

Nah, sekarang pertanyaan. Apa saja kebiasaan yang dapat dilakukan agar keberuntungan menaungi hidup kita. Langsung saja disimak berikut ini:

Enjoy dan memaksimalkan peluang

Memaksimalkan peluang dalam hidup tidak bisa dilakukan terburu-buru, serakah dan stress. Enjoy saja saat memanfaatkan peluang. Terbuka pada hal baru, artinya mengikuti perkembangan zaman. Tanpa sifat-sifat demikian rasanya sulit untuk memaksimalkan peluang dalam hidup. Memanfaatkan segala peluang untuk menjadikan karya yang bermanfaat untuk orang lain.

Mengikuti hati nurani

Percaya tidak percaya, sudah banyak kejadian dimana dengan mengikuti hati nurani, maka keberuntungan akan mengikuti. Ini bukan semata peristiwa magic. Melainkan tentang seseorang yang percaya pada hati nurani. Dan tentunya nurani perlu diasa dengan merenung dan berdoa. Perlu kamu tahu, orang-orang seperti ini yakin pada pilihannya dan tidak takut gagal.

Karena yakin akan beruntung

Orang-orang yang beruntung biasanya yakin bahwa dirinya akan beruntung. Ini bukan berarti terlalu percaya diri. Hanya saja cara pandang orang tersebut melihat dunia. Orang yang beruntung memandang dunia dengan positif.

Mereka percaya hari ini maupun besok Ia akan beruntung. Dan meyakini dunia ini penuh keberkahan. Sehingga Ia tidak merasa resah karenanya.

Bahkan, saat ini mereka yakin ada keberuntungan dibaliknya

Sebenarnya rahasia agar hidup beruntung itu cukup sederhana. Ini lebih kepada bagaimana kita menyikapi keadaan. Saat kita yakin akan mendapatkan keberuntungan. Maka yakini juga bahwa tidak selamanya hidup selalu beruntung, lebih tepatnya belum beruntung.

Keberuntungan tidak selamanya selalu datang dengan kegembiraan di awal. Orang-orang yang beruntung meyakini, sekalipun dalam kesialan. Akan ada banyak keberuntungan setelah. Mereka selalu mengambil hikmah di balik kesedihan, musibah dan kesialan. Dengan begitu, setidaknya mereka tidak larut dalam keterpurukan. Dan segera mencari solusi dan menjemput keberuntungannya.

Senin, 13 Desember 2021

Kenapa Semakin Tambah Usia, Waktu Berjalan Lebih Cepat?

Umur setiap manusia semakin bertambah setiap tahunnya. Dan entah kenapa, semakin bertambah usia, waktu terasa begitu cepat berlalu. Terutama bagi para orang dewasa. Tidak seperti waktu kecil dulu, dimana menunggu libur sekolah rasanya lama banget.

Bagi orang dewasa, hari berlalu cepat tanpa disadari. Kenapa ya? Apa ini tuntutan usia bahwa semakin dewasa jangan terlalu diresapi hidup ini, melainkan harus bergerak cepat dan berpikir kedepan. Sehingga rutinitas padat, sibuk, lalu tak terasa sudah berapa Purnama terlewatkan tanpa adanya dia di sisi.

Oh tidak, daripada semakin gak jelas. Lebih baik kita simak sedikit rahasia Kenapa semakin tambah umur, waktu berjalan semakin cepat?

Waktu Berjalan Lambat ketika otak memproses ilmu lebih banyak. Hal ini sering terjadi pada masa kanak-kanak

Sampai disini paham kan? Bahwa anak-anak merasa waktu berlalu lebih lama. Karena banyaknya informasi baru yang masuk. Dengan banyaknya stimulus baru, otak kita membutuhkan waktu lebih lama untuk memproses informasi sehingga periode waktunya terasa makin panjang untuk bisa melakukan sesuatu. Kondisinya menjadi berubah ketika sudah dewasa.

Juga ada persepsi lain soal laju waktu yang semakin lama semakin cepat. Disebabkan karena perlambatan metabolisme pada diri orang dewasa. Ditandai dengan melambatnya detak jantung dan nafas.

Berbeda dengan detak jantung dan nafas anak kecil yang lebih cepat. Membuat bagi anak kecil, hal tersebut membuat lebih banyak waktu untuk dihabiskan.

Tetaplah pelajari sesuatu yang baru, agar hidup tidak sekedar pagi nunggu sore

Proses penyerapan informasi baru, justru lebih lama ketimbang peristiwa itu sendiri. Inilah yang membuat terasa lebih banyak waktu dihabiskan.

Lalu apa hubungannya dengan laju waktu yang kita alami? Semakin bertambah usia seseorang, maka Ia juga akan jadi lebih terbiasa dengan lingkungannya. Alhasil Ia merasa tidak ada hal baru lagi mesti diperhatikan. Seolah berjalan seperti biasa aja. Dan waktu berjalan lebih cepat.

Berbeda dengan anak kecil yang memandang dunia penuh dengan hal baru. Bagaimanapun air hujan turun, mengapa langit berwarna biru dan awan putih, dan banyak lagi. Memikirkan itu semua memang akan menghabiskan waktu. Tapi setidaknya dengan demikian waktu berlalu tidak begitu-begitu saja.

Perbedaan demikian jelas diketahui bahwa sebenarnya orang dewasa terjebak pada rutinitas sehingga sering kali mereka merasa hari berlalu tanpa perbedaan yang berarti sehingga tidak menyadari waktu terus berlalu.

Terbiasa dengan rutinitas harian, membuat waktu berjalan begitu cepat

Banyak teori yang menjelaskan mengapa semakin lama semakin waktu cepat berlalu. Penjelasannya cukup ilmiah dan rumit. Tapi disini ringkasnya saja ya.

Masih sama seperti poin sebelumnya. Orang-orang dewasa banyak yang terjebak pada rutinitas harian, tanpa mereka sadari. Misalnya terjebak di jalanan yang macet. Bahkan ada yang bilang, sangking macetnya jalanan tersebut, banyak orang yang menua di jalan. Karena begitu banyak waktu yang dihabiskan di sana. Ya ini contoh rutinitas yang membuat kita tidak terasa sudah banyak waktu berlalu begitu saja.

Seolah waktu berjalan seperti mengambang saja, begitu cepat. Semakin kita terbiasa pada suatu rutinitas. Maka hari-hari akan terlewati seperti halnya hari-hari biasa.

Jangan khawatir soal ini. Ini bukan karena Bumi yang berputar lebih cepat. Lebih kepada pikiran kita sendiri. Jadi kalau kamu tidak mau waktu berjalan begitu saja. Maka pandai-pandai mengisi rutinitas yang menarik dan bermanfaat. Memang bagi orang dewasa wajib bekerja. Tapi bukan berarti kita tidak bisa melakukan sesuatu yang disukai dan membuat setiap hari berbeda dari hari biasanya.

Semua kembali pada dirimu menjalani hidup di dunia ini. Terserah padamu hidup seperti apa. Yang jelas, waktu akan terus berlalu. Tanpa peduli kamu suka atau tidak.

Mengapa Saat Bahagia Waktu Terasa Lebih Cepat


Banyak hal yang sering kita jadikan alasan untuk menuding dunia ini gak adil. Salah satu halnya "waktu". Mengapa waktu berjalan lambat saat bersedih, tapi saat sedang bahagia waktu berjalan begitu cepat? Benarkah dunia "seberCanda" itu?

Tapi Tunggu dulu, boleh jadi itu disebabkan dari pikiran kita sendiri. Waktu tetap 24 jam sehari. Lama dan cepatnya waktu berjalan tergantung dari persepsi dari setiap orang. Dipengaruhi kondisi emosional orang tersebut.

Topik demikian sudah banyak dibahas di beberapa website. Penjelasannya cukup spesifik dan ilmiah. Tapi tenang saja, pada artikel kali ini sebisa mungkin akan dijelaskan secara sederhana. Mengutip artikel dari Bobo.id (1/2/21), kondisi dimana kita merasa waktu berjalan begitu cepat saat bahagia, sementara sebaliknya ketika sedih ataupun bosan waktu jadi terasa lambat, dinamakan Holiday Paradox

Yang mana maksudnya kondisi cepat dan lambat waktu berdasarkan perasaan. Meskipun sebenarnya waktu tetap berjalan normal. Mengapa begitu? Penjelasannya begini, ketika kita sedang bosan atau gak mood misalnya sama suatu keadaan. Nah saat itu pikiran kita menjadi tidak sibuk dan fokus menjadi terpecah. Kita jadi mulai sering melirik ke arah jam. "Ayolah kapan kesengsaraan ini berakhir?". Kira-kira begitulah yang kita pikirkan kalau lagi bosan atau tidak bahagia.

Kabar buruknya, momen seperti tersebut jadi terasa lebih lama. Itu karena pikiran kita sendiri. Pikiran kita hanya bersifat jangka pendek. Sederhananya, kita hanya memikirkan kapan waktu berlalu namun uda gak tau lagi melakukan apapun. Walhasil, waktu berjalan jadi terasa lebih lama.

Sebenarnya manusiawi saja, saat kita sedang sedih memang pikiran jadi buntu. Gak tau lagi mau melakukan apa. Terkadang ada positifnya juga, agar saat itu kita memiliki waktu lebih untuk introspeksi dan evaluasi diri saat kondisi tidak bahagia.

Sementara saat sedang bahagia. Kita biasanya lebih fokus pada momen yang sedang kita nikmati. Pikiran juga jadi ramai. Banyak hal yang menyenangkan yang ingin dilakukan. Sampai lupa waktu. Itulah sebabnya waktu berjalan lebih cepat, perasaannya begitu.

Berbanding terbalik saat menjadi kenangan. Saat kita bersedih maupun bosan dengan keadaan, waktu memang seolah terasa lambat. Meski sebenarnya waktu tetap berjalan normal. Begitu juga sebaliknya saat sedih atau bosan, jalannya waktu menjadi lambat .

Namun keadaannya menjadi berbanding terbalik. Saat momen bahagia dan sedih menjadi kenangan atau memori. Sering kali terjadi, pada saat sedang bahagia jadi lupa waktu. Waktu terlewati dengan cepat tanpa terasa. Namun saat momen indah tersebut dikenang kembali, banyak kenangan yang diingat. Bahkan untuk menceritakan kembali kenangan indah tersebut, boleh jadi waktu yang dihabiskan untuk cerita lebih banyak dari waktu kejadian sesungguhnya.

Beginilah, waktu memang misteri. Lama tidaklah waktu terkadang tergantung pada persepsi perasaan masing-masing orang. Pada kegiatan rutinitas, misalnya bersekolah maupun bekerja. Kegiatan yang sudah rutin dilakukan. Maka akan lebih sedikit momen baru yang terjadi. Karena sudah sering dilalui.

Sehingga saat mengingat kembali momen tersebut, maka lebih sedikit kenangan yang diingat. Tidak banyak yang dapat diceritakan dari kegiatan rutinitas yang terulang sehari-hari. Walaupun saat menjalani rutinitas kita merasa waktu berjalan lambat. Namun saat menjadi kenangan, menjadi lebih singkat.

Dari sini kita tahu bahwa perasaan atau kondisi hati dan pikiran mempengaruhi persepsi kita pada waktu. Saat sedih waktu terasa lambat, sementara saat bahagia waktu berjalan lebih cepat. Maka itu sebaik mungkin nikmati momen bahagia yang kamu miliki.

Sabtu, 11 Desember 2021

Awal Mula Kebiasaan Makan Satu Kali Jadi Tiga Kali Sehari

Makan 3 kali sehari sudah lazim dilakukan masa sekarang. Bahkan dianggap sebagai keharusan bagi sebagian orang, selalu makan pagi (sarapan), makan siang dan malam hari.

Karena sangking umumnya kebiasaan makan 3 kali sehari, mungkin kita tidak pernah kepikiran "memang harus ya makan sampai 3 kali sehari?". Kenapa begitu?

Padahal nih, kebiasaan selalu makan di pagi, siang dan malam hari dulunya tidak ada. Yang ada cuma kebiasan makan sekali saja dalam sehari.

Lantas bagaimana awal mula kebiasaan makan yang semula cuma sekali menjadi tiga kali sehari? Simak penjelasan berikut ini ya?

Awal mula makan cuma satu kali sehari

Terjadi pada zaman Romawi, menurut sejarawan makanan Caronline Yeldham, kebiasaan makanan tiga kali sehari seperti sekarang tidak ada pada zaman dahulu.

Orang Romawi percaya bahwa makan cuma sekali dalam sehari lebih menyehatkan, terutama untuk kesehatan pencernaan.

Bahkan masyarakat Romawi kala itu menganggap makan lebih dari sekali sebagai bentuk kerakusan.

Sementara pada abad pertengahan, kebiasaan makan masyarakat banyak mencontoh gaya hidup pemuka agama.

Seorang sejarawan makanan Ivan Day menjelaskan bahwa pemuka agama pada saat itu tidak makan apa-apa sebelum misa pagi.

Daging juga hanya dikonsumsi selama setengah tahun saja, tidak setiap hari.

Di Inggris, dikenal istilah Full Breakfast. Kebiasaan makan masyarakat negeri Ratu Elizabeth ini juga dipengaruhi oleh ritual keagamaan.

Sebelum umat Kristiani melakukan puasa Paskah, diharuskan ada telur dan daging pada menu makanan. Inilah awal mula full breakfast.

Namun ada pendapat yang menyatakan bahwa breakfast sendiri bukanlah menu makanan yang dimakan pada pagi atau sarapan.

Melainkan ada kemungkinan bahwa kata breakfast dimaknai sebagai breaking the nightâs fast. Atau membatalkan puasa sejak malam hari.

Memasuki abad ke-17, menurut Chef Clarissa Dickson Wright, kebiasaan sarapan mulai dikenal di Inggris. Dan semakin populer pada abad ke-19.

Pada abad ke-19 juga ditandai dengan masuknya era industri. Masyarakat mulai sibuk bekerja. Kebiasaan dipengaruhi jam kerja. Sehingga masyarakat harus makan di pagi hari atau sarapan, agar punya tenaga bekerja.

Pada rentang waktu 1920-1930, sarapan mulai dianggap waktu makan paling baik.

Awal mula adanya makan siang

Masih bermula pada zaman Romawi dan abad pertengahan yang awalnya hanya makan sekali sehari saja pada siang hari. Waktu makan ini disebut dinner atau makan malam.

Pada masa sebelum listrik belum ditemukan. Masyarakat kala itu bangun lebih pagi dan mulai beladang sejak subuh. Sehingga mereka menjadi lapar dan makan di siang hari.

Nah, setelah listrik ditemukan. Waktu makan menjadi lebih malam. Mungkin karena itu ya dikenal jadi istilah dinner atau makan malam.

Sementara di siang hari, masyarakat kala itu juga makan. Atau lebih tepatnya makan makanan lebih ringan. Lunch, ya istilah itu yang dikenal sebagai makan siang.

Istilah Lunch sebagai makan siang mulai dikenal pada abad ke-19. kata lunch berasal dari kata nuncheon dalam bahasa Anglo-Saxon. Yang artinya makanan ringan di antara makan, yang dipegang dengan dua tangan.

Memasuki era industri. Orang-orang jadi lebih sibuk bekerja di pabrik. Kebiasaan makan mulai berubah. Waktu makan jadi mengikuti jam kerja. Masyarakat akhirnya juga melakukan makan siang.

Awal mula adanya makan malam

Pada zaman Romawi, sebenarnya sudah ada menu makan malam. Hanya saja waktu makannya bukan di malam hari.

Hal itu dikarenakan belum ditemukan listrik. Penerangan hanya tersedia pada pagi dan siang hari memanfaatkan sinar matahari.

Setelah listrik dan lampu mulai ditemukan. Makan malam semakin bergeser semakin malam.

Di abad ke-18, masyarakat perkotaan mulai melakukan kebiasaan makan tiga kali sehari.

Kemudian pada abad ke-19 makan malam semakin lazim dilakukan. Kebiasaan ini tak terlepas dari gaya hidup masyarakat yang semakin sibuk bekerja dan baru pulang pada malam hari. Jadinya mereka baru sempat makan pada malam hari.

Sementara pada waktu libur, makan malam masih dilakukan. Hanya saja waktu makan tidak terlalu malam.

Kesimpulannya, perubahan kebiasaan makan yang dari sekali sehari saja menjadi tiga kali. Kemudian adanya kebiasaan sarapan, makan siang dan malam hari.

Sesuai dijelaskan di atas, diketahui kebiasaan dan waktu makan dipengaruhi dari ditemukannya listrik beserta lampu penerangan. Lalu sejak memasuki masa industri, ternyata memberi pengaruh besar pada kebiasaan makan masyarakat. Waktu makan menjadi mengikuti jam kerja. Dan sepertinya, kesibukan bekerja tersebut membuat makan sekali sehari menjadi tidak cukup. Sehingga harus makan sampai tiga kali sehari. Agar punya tenaga buat kerja keras, hehehe..