Minggu, 02 Januari 2022

Rokok, Demokrasi dan Dominasi Mayoritas

Saya adalah seorang yang tidak merokok. Tapi rasanya sulit mengatakan itu sebuah kebanggaan. Lebih tepatnya sulit cari letak dimana yang bisa dibanggakan?

Dari segi kesehatan, saya ini tergolong orang yang gampang sakit. Kehujanan sedikit saja, besoknya flu. Sedangkan orang yang merokok terlihat kebal-kebal saja meski mandi hujan. Masih sehat-sehat saja.

Sementara urusan dompet. Ya saya gak mengingkari teori bahwa orang yang tidak merokok akan memiliki isi dompet yang tebal. Tapi ini juga bukan sesuatu yang tidak terlalu dibanggakan. Takutnya nanti malu sama orang yang merokok tapi lebih tajir.

Hingga saat ada orang bilang kalau cowok yang tidak merokok agak ada lembek-lembeknya. Meski maksudnya agak ambigu. Tapi saya iyain aja.

Memangnya kenapa? Toh kenyataannya begitu. Misal saat lagi ngumpul, gak lama saya cabut karena ada yang merokok sembarangan. Sama asap saja kabur, benar-benar cemen diriku.

Serius ini. Saya memang merasa menjadi orang lemah karena tidak merokok. Definisi lemah disini ialah ketika kita tahu sesuatu yang benar, tapi tidak berdaya ketika lebih banyak orang yang berkata sesuatu tersebut salah. Dan akhirnya harus mengalah.

Tapi Insyaallah saya tidak bego dan polos amat. Meski saya akui seseorang yang tidak merokok itu lembek, kesannya lemah atau sebagainya. Namun saya tetap menyiapkan argumen untuk serangan balik. Tapi tidak sekarang, nikmati aja tulisan ini dulu.

Jika demokrasi merupakan metode pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak. Maka dapat dipastikan rokok merupakan bentuk demokrasi yang baik.

Pemahaman demokrasi seperti ini yang saya lihat khususnya di Indonesia. Misal memilih pemimpin diambil dari suara terbanyak. Metode demikian baik, bila prosesnya sesuai aturan yang berlaku. Memang sewajarnya begitu, karena pemimpin semesti didukung mayoritas rakyatnya.

Tapi apa jadinya jika pemahaman demokrasi seperti itu diterapkan dalam kebiasaan merokok. Tentu para perokok yang akan menang karena jumlahnya lebih banyak di tongkrongan pada umumnya. No debat.

Persoalan rokok ini memang selalu didebatkan dimana-mana. Bagi orang yang tidak merokok, tentu akan memegang teguh kesehatan yang utama. Tapi para perokok juga memiliki 1001 pembenaran merokok itu gak apa-apa. Dan yang diandalkan para perokok ialah nasib karyawan pabrik rokok.

Tapi terus terang saya tidak mau terlibat perdebatan tentang rokok secara mendalam. Karena meskipun saya tahu asap rokok itu berbahaya. Namun seumpama dalam satu kelompok hanya saya yang tidak merokok. Maka tidak mungkin saya menceramahi orang-orang disitu tentang bahaya merokok apalagi sampai mengusir mereka. Walau jelas-jelas itu hak saya sebaik orang yang tidak merokok untuk menegur sekelompok orang yang merokok tidak pada tempatnya.

Akan tetapi itu konyol. Saya juga tidak se-naif itu. Jika sekitar saya pada merokok, maka lebih baik saya menghindar. Apalagi cuma saya sendiri yang tidak merokok. Inikan wilayah yang katanya demokrasi, dimana mayoritas yang berkuasa.

Wah… kok jadi menyerempet ke politik ya. Tenang ini masih soal rokok. Dimana rokok besar karena banyak penikmatnya. Sekalipun fakta ilmu kesehatan mengatakan merokok itu membunuhmu. Tapi dikarenakan jumlah perokok yang banyak dan masih hidup, secara tidak langsung memberikan kesan bahwa merokok itu tidak apa-apa.

Seperti halnya post true, dimana sesuatu yang salah jika dilakukan banyak orang dan berulang kali terjadi. Maka akan menjadi sesuatu yang lumrah bahkan menjadi benar.

Bahkan jangan kaget, jika orang-orang yang tidak merokok karena jumlahnya minoritas justru dikatain lemah, banci dan sebagainya.

Kejadian seperti itu banyak kok terjadi khususnya yang saya lihat dan dengar. Mungkin kesannya aneh, ketika seseorang yang tidak merokok jadi malah dipaksa merokok. Kalau cerita dipergaulan sering dicekoki rokok mungkin sudah sering terjadi. Tapi saya pikir cerita berikut ini beda.

Saya pernah dengar sendiri ada seorang istri yang menganjurkan suami untuk merokok. Tujuannya agar suami terlihat jantan, sama seperti bapak-bapak yang lain. Padahal suaminya tidak merokok. Aneh saja, duh ibu ini. Mendapat suami yang tidak merokok saya pikir merupakan anugerah. Perkara kejantanan kan bisa diuji ke lingkup yang lebih privat ya.

Kemudian ada seorang bapak yang mendapat perlakuan diskriminasi dari pabrik tempatnya bekerja karena tidak merokok. Jadi di pabriknya memberikan jatah istirahat buat merokok di sela bekerja. Tujuan dari pabrik betul, agar pekerja tidak merokok sambil kerja. Nah, lucunya seorang bapak tadi kan tidak merokok. Jadi tidak boleh istirahat." kata Si Mandor yang juga ambil jatah istirahat merokok.

Memang tidak adil, ketika yang lain boleh istirahat untuk merokok yang mana rokoknya disediakan pabrik juga. Tapi bapak tadi tidak boleh istirahat karena tidak merokok. Sementara disuruh lanjut kerja tanpa keuntungan lainnya. Besoknya Si Bapak malang tadi mengakali dengan pura-pura emut rokok aja.

Ya ini yang saya anggap sebagai rokok yang merupakan bentuk demokrasi yang baik. Dimana yang diutamakan suara paling banyak.

Sekalipun kita tahu jika kita tidak merokok itu baik dan benar, tapi kalau di lingkungan kita lebih banyak yang merokok. Maka kita yang mengalah. Anggap saja ini bentuk toleransi.

Beruntung bagi kalian yang tidak merokok tapi masih berada di lingkungan orang yang merokok tapi masih punya etika. Tidak sembarangan hisap rokok dimanapun berada dan menghargai orang tidak merokok.

Sesungguhnya merokok juga bukan sesuatu yang mesti dikecam atau didebatkan. Jika kita semua menghargai hak masing-masing.

Saya yang tidak merokok juga ogah menasehati perokok agar berhenti. Buat apa, saya yakin dia punya alasan sendiri atas pilihannya sebagai perokok. Sepanjang perokok tahu aturan tidak merokok sembarangan, lihat arah angin dan menghargai yang tidak merokok. Maka saya menghormatinya.

Dan tidak ada yang dipermasalahkan. Kecuali jika ada perokok yang tidak punya etika dan egois. Maka maaf saja saya katakan jenis orang seperti itu sebagai orang lemah, lembek dan sebagainya.

Apa itu? Orang yang merokok karena terpengaruh pergaulan, supaya dibilang keren dan sebagainya. Katanya tidak punya uang, tapi untuk rokok selalu diada-adakan. Hingga kita sadar betapa lemahnya perokok itu.

Tidak bisa menjadi diri sendiri, mudah terpengaruh. Hanya mengikuti sesuatu yang banyak orang lain lakukan, tanpa memikirkan mana yang benar.

Dan perokok itu lemah ketika tidak kuat menahan kecanduannya, sementara isi kantong sudah tidak sanggup lagi.

Please, ini bukan bermaksud menghina perokok. Anggap saja kita sedang berdemokrasi. Secara jumlah perokok memang lebih banyak dan mendominasi di tongkrongan-tongkrongan. Tapi jangan sembarangan membuat pembenaran-pembenaran yang mengatakan merokok itu lebih baik, lebih keren dan sebagainya. Apalagi sampai mengatakan orang yang tidak merokok itu lembek, aneh dan sebagainya.

Layaknya hidup berdemokrasi. Meski mayoritas selalu berkuasa. Jangan sepelekan suara minoritas. Karena mayoritas dan minoritas belum tentu selalu berbanding lurus benar dan salah. Jadi jangan paling merasa diri yang paling benar, meski yang sepakat denganmu banyak.