Minggu, 02 Januari 2022

Rokok, Demokrasi dan Dominasi Mayoritas

Saya adalah seorang yang tidak merokok. Tapi rasanya sulit mengatakan itu sebuah kebanggaan. Lebih tepatnya sulit cari letak dimana yang bisa dibanggakan?

Dari segi kesehatan, saya ini tergolong orang yang gampang sakit. Kehujanan sedikit saja, besoknya flu. Sedangkan orang yang merokok terlihat kebal-kebal saja meski mandi hujan. Masih sehat-sehat saja.

Sementara urusan dompet. Ya saya gak mengingkari teori bahwa orang yang tidak merokok akan memiliki isi dompet yang tebal. Tapi ini juga bukan sesuatu yang tidak terlalu dibanggakan. Takutnya nanti malu sama orang yang merokok tapi lebih tajir.

Hingga saat ada orang bilang kalau cowok yang tidak merokok agak ada lembek-lembeknya. Meski maksudnya agak ambigu. Tapi saya iyain aja.

Memangnya kenapa? Toh kenyataannya begitu. Misal saat lagi ngumpul, gak lama saya cabut karena ada yang merokok sembarangan. Sama asap saja kabur, benar-benar cemen diriku.

Serius ini. Saya memang merasa menjadi orang lemah karena tidak merokok. Definisi lemah disini ialah ketika kita tahu sesuatu yang benar, tapi tidak berdaya ketika lebih banyak orang yang berkata sesuatu tersebut salah. Dan akhirnya harus mengalah.

Tapi Insyaallah saya tidak bego dan polos amat. Meski saya akui seseorang yang tidak merokok itu lembek, kesannya lemah atau sebagainya. Namun saya tetap menyiapkan argumen untuk serangan balik. Tapi tidak sekarang, nikmati aja tulisan ini dulu.

Jika demokrasi merupakan metode pengambilan keputusan berdasarkan suara terbanyak. Maka dapat dipastikan rokok merupakan bentuk demokrasi yang baik.

Pemahaman demokrasi seperti ini yang saya lihat khususnya di Indonesia. Misal memilih pemimpin diambil dari suara terbanyak. Metode demikian baik, bila prosesnya sesuai aturan yang berlaku. Memang sewajarnya begitu, karena pemimpin semesti didukung mayoritas rakyatnya.

Tapi apa jadinya jika pemahaman demokrasi seperti itu diterapkan dalam kebiasaan merokok. Tentu para perokok yang akan menang karena jumlahnya lebih banyak di tongkrongan pada umumnya. No debat.

Persoalan rokok ini memang selalu didebatkan dimana-mana. Bagi orang yang tidak merokok, tentu akan memegang teguh kesehatan yang utama. Tapi para perokok juga memiliki 1001 pembenaran merokok itu gak apa-apa. Dan yang diandalkan para perokok ialah nasib karyawan pabrik rokok.

Tapi terus terang saya tidak mau terlibat perdebatan tentang rokok secara mendalam. Karena meskipun saya tahu asap rokok itu berbahaya. Namun seumpama dalam satu kelompok hanya saya yang tidak merokok. Maka tidak mungkin saya menceramahi orang-orang disitu tentang bahaya merokok apalagi sampai mengusir mereka. Walau jelas-jelas itu hak saya sebaik orang yang tidak merokok untuk menegur sekelompok orang yang merokok tidak pada tempatnya.

Akan tetapi itu konyol. Saya juga tidak se-naif itu. Jika sekitar saya pada merokok, maka lebih baik saya menghindar. Apalagi cuma saya sendiri yang tidak merokok. Inikan wilayah yang katanya demokrasi, dimana mayoritas yang berkuasa.

Wah… kok jadi menyerempet ke politik ya. Tenang ini masih soal rokok. Dimana rokok besar karena banyak penikmatnya. Sekalipun fakta ilmu kesehatan mengatakan merokok itu membunuhmu. Tapi dikarenakan jumlah perokok yang banyak dan masih hidup, secara tidak langsung memberikan kesan bahwa merokok itu tidak apa-apa.

Seperti halnya post true, dimana sesuatu yang salah jika dilakukan banyak orang dan berulang kali terjadi. Maka akan menjadi sesuatu yang lumrah bahkan menjadi benar.

Bahkan jangan kaget, jika orang-orang yang tidak merokok karena jumlahnya minoritas justru dikatain lemah, banci dan sebagainya.

Kejadian seperti itu banyak kok terjadi khususnya yang saya lihat dan dengar. Mungkin kesannya aneh, ketika seseorang yang tidak merokok jadi malah dipaksa merokok. Kalau cerita dipergaulan sering dicekoki rokok mungkin sudah sering terjadi. Tapi saya pikir cerita berikut ini beda.

Saya pernah dengar sendiri ada seorang istri yang menganjurkan suami untuk merokok. Tujuannya agar suami terlihat jantan, sama seperti bapak-bapak yang lain. Padahal suaminya tidak merokok. Aneh saja, duh ibu ini. Mendapat suami yang tidak merokok saya pikir merupakan anugerah. Perkara kejantanan kan bisa diuji ke lingkup yang lebih privat ya.

Kemudian ada seorang bapak yang mendapat perlakuan diskriminasi dari pabrik tempatnya bekerja karena tidak merokok. Jadi di pabriknya memberikan jatah istirahat buat merokok di sela bekerja. Tujuan dari pabrik betul, agar pekerja tidak merokok sambil kerja. Nah, lucunya seorang bapak tadi kan tidak merokok. Jadi tidak boleh istirahat." kata Si Mandor yang juga ambil jatah istirahat merokok.

Memang tidak adil, ketika yang lain boleh istirahat untuk merokok yang mana rokoknya disediakan pabrik juga. Tapi bapak tadi tidak boleh istirahat karena tidak merokok. Sementara disuruh lanjut kerja tanpa keuntungan lainnya. Besoknya Si Bapak malang tadi mengakali dengan pura-pura emut rokok aja.

Ya ini yang saya anggap sebagai rokok yang merupakan bentuk demokrasi yang baik. Dimana yang diutamakan suara paling banyak.

Sekalipun kita tahu jika kita tidak merokok itu baik dan benar, tapi kalau di lingkungan kita lebih banyak yang merokok. Maka kita yang mengalah. Anggap saja ini bentuk toleransi.

Beruntung bagi kalian yang tidak merokok tapi masih berada di lingkungan orang yang merokok tapi masih punya etika. Tidak sembarangan hisap rokok dimanapun berada dan menghargai orang tidak merokok.

Sesungguhnya merokok juga bukan sesuatu yang mesti dikecam atau didebatkan. Jika kita semua menghargai hak masing-masing.

Saya yang tidak merokok juga ogah menasehati perokok agar berhenti. Buat apa, saya yakin dia punya alasan sendiri atas pilihannya sebagai perokok. Sepanjang perokok tahu aturan tidak merokok sembarangan, lihat arah angin dan menghargai yang tidak merokok. Maka saya menghormatinya.

Dan tidak ada yang dipermasalahkan. Kecuali jika ada perokok yang tidak punya etika dan egois. Maka maaf saja saya katakan jenis orang seperti itu sebagai orang lemah, lembek dan sebagainya.

Apa itu? Orang yang merokok karena terpengaruh pergaulan, supaya dibilang keren dan sebagainya. Katanya tidak punya uang, tapi untuk rokok selalu diada-adakan. Hingga kita sadar betapa lemahnya perokok itu.

Tidak bisa menjadi diri sendiri, mudah terpengaruh. Hanya mengikuti sesuatu yang banyak orang lain lakukan, tanpa memikirkan mana yang benar.

Dan perokok itu lemah ketika tidak kuat menahan kecanduannya, sementara isi kantong sudah tidak sanggup lagi.

Please, ini bukan bermaksud menghina perokok. Anggap saja kita sedang berdemokrasi. Secara jumlah perokok memang lebih banyak dan mendominasi di tongkrongan-tongkrongan. Tapi jangan sembarangan membuat pembenaran-pembenaran yang mengatakan merokok itu lebih baik, lebih keren dan sebagainya. Apalagi sampai mengatakan orang yang tidak merokok itu lembek, aneh dan sebagainya.

Layaknya hidup berdemokrasi. Meski mayoritas selalu berkuasa. Jangan sepelekan suara minoritas. Karena mayoritas dan minoritas belum tentu selalu berbanding lurus benar dan salah. Jadi jangan paling merasa diri yang paling benar, meski yang sepakat denganmu banyak.

Jumat, 31 Desember 2021

Beda Kasus Antara Jerawat Dengan Menutup Aurat dan Aib

Sungguh saya tidak bermasalah dengan pendapat yang mengatakan penampilan itu gak cuma dilihat dari fisik melainkan perilaku. Dan Jerawat hanya hal sepele, benjolan kecil saja. Jangan terlalu uring-uringan tutupi jerawat sementara aurat & aib diumbar kemana-mana.

Justru saya setuju dengan pendapat yang bilang jerawat itu hal sepele, tidak perlu stres untuk menutup-nutupinya. Karena rasanya lebih elok menutup aib maupun menjaga kesopanan dalam penampilan. Tapi hal tersebut berlaku sejauh mana lambe-lambe julid disana juga ditutup.

Ya benar, jerawat itu cuma benjol kecil. Dipencet juga pecah. Entar juga sembuh. Tapi masalahnya tidak segampang itu bos. Efek dan bekas jerawat itu sangat mengganggu. Terutama reaksi orang-orang yang melihat. Jerawat memang tidak berdosa, tapi menimbulkan komentator jahat.

Jika jerawat tidak timbul di wajah mungkin persoalannya tidak serumit itu. Mungkin kita akan lebih pede menampilkan benjol akibat kejedot pintu dibanding jerawat yang meradang.

Jerawat hanya puncak gunung es

Kelihatannya aja jerawat kecil. Tapi bagaimana jika itu hanya puncak dari sebuah gunung es? Dibawahnya banyak masalah yang menyertainya. Sebagai orang yang masa remajanya ditemani teman kecil bernama jerawat. Saya merasakannya demikian.

Bahwa betul penampilan jerawat itu kecil. Tapi dampak yang ditimbulkan besar. Dan terutama reaksi dari orang-orang yang melihatnya. Belum lagi komentar-komentar yang tidak perlu dari mereka.

Dari yang disinggung masalah percintaan, stres sampai yang hanya memperhatikan tapi dengan wajah jijik. Sebenarnya reaksi seperti itu dapat diterima. Tapi alangkah baiknya reaksi seperti itu jangan ditunjukan di depan orang banyak. Seolah ingin memberi tahu banyak orang bahwa seseorang sedang jerawatan. *eh lihat nih jerawatnya jelek*.

Jika kalian peduli, lebih baik tunjukan reaksi kaget kalian melihat jerawat seseorang di kondisi dan tempat yang pas. Seperti langsung saja tawarkan bantuan, kasih saran skincare yang bagus atau bayar. Dan lebih jempol, ajakin saja cek ke klinik. Dibayari!

Minimal jika tidak bisa seperti itu, maka diam saja. Saya tahu di kita budayanya kolektif. Saling pedulikan satu sama lain. Tapi jika rasa peduli itu hanya berupa reaksi penasaran dan kaget. Tanpa memberi solusi. Sepertinya kita semua perlu belajar budaya dan tata krama lagi deh.

Selama tidak bisa melakukan hal demikian. Maka jangan suka menyamakan persoalan jerawat dengan menutup aurat dan aib.

Jerawat vs aurat dan aib

Oke kata "vs" diatas hanya gimmick aja. Jadi responnya biasa saja ya. Saya paham bahwa menutup aurat maupun menutupi aib sendiri dan orang lain merupakan keutamaan baik di dalam agama maupun norma sosial yang berlaku di masyarakat. Jadi tidak ada perdebatan soal ini.

Lantas bagaimana dengan jerawat. Tidak ada aturan tertulis dan baku yang mengatakan jerawat itu harus ditutupi. Kastanya mungkin di bawah aurat maupun aib yang diutamakan untuk ditutupi.

Kita mungkin bisa cuek dengan jerawat dan pede menampilkan didepan orang banyak. Tapi tidak dengan mulut dan tatapan hina dari orang lain.

Saya harap kita semua dapat mengerti. Sekalipun jerawat ini hanya benjolan kecil, tapi jika head to head sama aurat dan aib, sebenarnya persoalannya hampir sama. Maka tidak heran bila ada orang mati-matian menutupi jerawatnya.

Di bully karena jerawat itu sesungguhnya amat menyakitkan. Sangat menghambat ruang gerak dan tidak bisa tampil ke depan. Karena pastinya akan malu. Jatuhnya jadi insecure, depresi, stres, amit-amit bisa bunuh diri.

Tapi apa jadinya bila ada seseorang yang hanya mementingkan menutup jerawat, sementara auratnya diumbar kemana-mana?

Ya itu tanggung jawab dia. Tugas kita mungkin hanya mengingatkan. Dan bagi saya ini merupakan kasus yang berbeda.

Kita fokus saja mengatasi kasus per kasus. Ini tidak menyinggung soal agama. Jerawatan juga setahu saya bukan dosa. Fokusnya pada kesehatan dan jerawat merupakan siklus wajar bagi remaja. Beruntung bagi mereka yang sanggup beli skincare dan perawatan wajah mumpuni. Nah, bagi yang tidak memiliki kemewahan tersebut, maka mau tidak mau harus menikmati fase remaja tersebut ditemani reaksi "sampah" di luar sana.

Yang tidak wajar itu kita, kita yang sudah tahu jerawat pada remaja itu kewajaran. Tapi masih merespon berlebihan ketika melihat orang jerawatan.

Sekarang intinya mesti adil. Jika aurat dan aib harus ditutup. Jerawat juga ditutup. Maka mulut kita semua juga perlu ditutup. Menghindari mengatakan sesuatu yang menyakiti perasaan orang lain, mesti cuma sekedar tatapan mata yang pedas.

Selasa, 28 Desember 2021

Emang Benar Orang tidak Merokok bisa Jadi Kaya?

Orang tidak merokok cenderung lebih banyak uang, benarkah demikian? Kita mungkin sering mendengar cerita-cerita yang menyenangkan ketika seseorang berhenti merokok maupun yang bukan perokok. Katanya jika uang yang biasanya habis untuk rokok, kemudian ditabung, maka hasilnya bisa beli mobil atau lebih, dalam beberapa tahun.

Bila biaya rokok per hari (per satu bungkus) Rp. 20 ribu. Maka sebulannya sudah menghabiskan Rp. 600 ribu. Bila setahun sekitar Rp. 7,2 juta. Dalam tempo 10 tahun saja sudah berapa coba uang yang bisa terkumpul jika tidak untuk rokok. Cukup banyak, daripada hanya untuk beli rokok. Oia, itu hitungan minimal biaya rokok, karena dari yang saya tahu perokok aktif biasanya habis 2 bungkus per hari.

Hitungan ekonomi ini juga yang menjadi salah satu faktor pendorong saya tidak merokok, di samping alasan kesehatan yang lebih utama. Berhubung saya bukan perokok, mungkin sedikit banyaknya saya bisa berbagi jawaban dari pertanyaan "benarkah tidak merokok bisa bikin kaya?"

Secara hitung-hitungan ekonomi secara kasar, tentu saja bisa. Dalam rincian, pengeluaran berkurang, artinya semakin banyak uang yang tersimpan. Nah, tentu hitung-hitungan tersebut menjadi percuma jika tidak ada pemasukan sama sekali. Darimana uang yang mau ditabung? Meski tetap jadi misteri, ketika orang pengangguran tapi rokok tetap jalan terus itu ceritanya gimana?

Dalam kondisi normal, maksudnya pemasukan tetap ada. Ketika kita tidak merokok, maka peluang kita untuk menabung akan lebih besar. Saya pribadi merasakan hal demikian, meski penghasilan saya tidak banyak. Namun karena saya tidak merokok, maka jadi sangat membantu dalam urusan ekonomi.

Tapi itu tidak mutlak terjadi ketika kita tidak merokok, maka otomatis uang banyak dan jadi orang kaya. Tidak begitu.

Kenyataannya dari orang-orang yang saya pernah saya temui dan mungkin kamu pernah alami. Bahwa ada juga orang yang tidak merokok tapi tetap kesusahan ekonomi. Sementara yang perokok aktif hidupnya lebih mapan.

Jelas saja bisa begitu, meski seorang perokok tapi dia kerjanya lebih giat, maka uang bisa lebih banyak dong. Sementara orang yang meski tidak pernah merokok sekalipun, tapi kerjanya malas, ya uangnya juga sedikit.

Kemudian ada faktor gaya hidup. Ada orang yang tidak merokok, tapi dia hedon. Suka menghamburkan uang untuk sesuatu yang tidak penting. Itu sih sama saja. Boro-boro mau sisihkan uang. Kagak sampai ngutang sana-sini saja sudah syukur.

Beberapa faktor orang bisa menjadi kaya atau minimal uangnya banyak. Bukan karena tidak merokok saja, lantas bisa bikin kaya raya. Itu semua didasari dari niat menabung, kerja dan komitmen.

Oke, kita bisa saja membayangkan "jika 10 tahun lalu tidak merokok, maka saat ini aku sudah punya puluhan juta Rupiah". Maka untuk sepuluh tahun kedepan kamu putuskan tidak merokok. Apakah uang puluhan juta akan terkumpul?

Jika diniatkan ditabung. Maka bisa. Namun jika tidak ditabung, pengeluaran tetap boros, kerja malas, hedon pula lagi. Maka selamat tinggal saja kawan!!

Disini saya bukan ahli keuangan. Tapi disini saya ingin berbagi tips yang mungkin sudah diketahui banyak orang. Jadi walaupun kita tidak merokok, maka tetap sediakan "uang rokok" yang seharusnya dibelikan rokok, jadi ditabung saja. Harus konsisten.

Dan tetap kurangi pengeluaran yang tidak penting. Karena percuma saja menutup satu lubang di ember berisi, tapi 4 lubang lain dibiarkan saja. Itu hanya memperlambat habisnya air dalam ember, tapi tidak mampu menyimpannya.

Jadi kita jangan suka telan mentah-mentah "harapan indah" yang mengatakan jika tidak merokok bisa bikin kaya. Tidak merokok yang seperti apa dulu bos! Jika tidak merokok tapi malas kerja, ya sama saja bohong. Tidak merokok, tapi gak menabung, sama seperti pakai masker tapi cuma di dagu. Juga jika tidak merokok tapi gaya hidup hedonisme, hahaha Bye.. Bye..

Tetapi, semua penjelasan di artikel ini tidak sepenuhnya berlaku bagi mereka para "sultan".

Dokter itu Malas Nulis atau Memang Sengaja Tulisannya Jelek?


Dokter itu kan pendidikannya tinggi kan ya? Tapi kok tulisannya jelek? Tulisan ceker ayam. Sebenarnya dokter itu malas menulis atau memang sengaja supaya pasien tidak bisa baca resep obat.

Fakta tulisan dokter jelek ini sudah banyak diketahui banyak orang. Jawabannya sebenarnya gampang saja, supaya pasiennya tidak bisa membaca atau mengetahui isi dari resep obat yang dibuat dokter.

Dan itu demi kebaikan dari para pasien. Karena sebuah obat medis belum tentu cocok untuk mengobati penyakit yang sama secara berkali-kali atau untuk pasien lainnya. Jadi bahaya sekali jika pasien sampai menyalahgunakan resep obat.

Tentu dokter tidak sembarangan memberi resep obat, meski tulisan resep terlihat seperti asal-asalan. Sangking jeleknya tulisan dokter, sampai tidak bisa terbaca oleh pasien. Tapi Apoteker dapat memahaminya.

Pemberian resep dokter tidak sembarangan. Jangan dikira kita bisa mengkonsumsi obat yang sama secara berulang. Karena dokter buat resep obat juga memperhatikan aspek umur, gejala, jenis kelamin, riwayat penyakit pasien dan sebagainya.

Jadi itu tujuan resep dokter ditulis dengan tulisan yang jelek. Karena ini berkaitan dengan obat pemulihan pasien ya bersifat rahasia. Biarkan menjadi sandi antara dokter dan apoteker.

Dan beberapa teori lain, menyebutkan tulisan dokter yang jelek pada secarik kertas resep obat. Dilakukan guna mempermudah tugas dokter.

Bayangkan saja, tugas dokter itu berat sekali. Misal dalam sehari seorang dokter melayani 100 pasien. Dalam 8 jam kerja sehari, artinya seorang dokter melayani 1 pasien per 5 menit.

Sungguh pekerjaan yang berpacu dengan waktu dalam mengobati pasien. Setelah memeriksa pasien, diagnosa, kemudian menulis resep obat sambil ngobrol sama pasien terkait penyakitnya.

Jadi wajar saja tulisan dokter jadi tidak rapi. Selain memang tujuannya agar hanya diketahui oleh orang tertentu saja, yaitu apoteker. Dan seorang dokter juga disebut sudah terbiasa menulis cepat karena semenjak kuliah terbiasa merangkum buku terkait Fisiologi Kedokteran yang tebal bukan main tersebut.

Tulisan resep dokter seperti cakar ayam memang sudah jadi cerita lama. Kebiasan tersebut sudah mulai ditinggalkan. Alasannya karena semakin majunya teknologi komunikasi dan media tulis. Juga meminimalisir kemungkinan miskomunikasi antara dokter dan apoteker.

Resep dokter kini juga ditulis secara komputerisasi. Meskipun demikian kode-kode dalam obat juga tetap njlimet. Jadi jangan sok tahu membaca resep obat.

Beruntungnya kini sudah tersedia sejumlah aplikasi telemedicine. Dimana kita bisa berobat lewat perangkat gawai. Dalam kondisi normal atau penyakit ringan. Kita bisa konsultasi sama dokter secara online dan obat bisa langsung diantarkan ke rumah pasien.

Selasa, 21 Desember 2021

Seandainya Indonesia Tidak Dijajah Belanda, Seperti Apa Negara Ini Sekarang?

Sejarah memang tidak bisa diubah dengan kembali ke masa lalu, dan berharap sejarah hari ini berubah. Tapi kalau cuma berandai-andai boleh dong ya. Sejarah negara Indonesia kini kita tahu meraih kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, yang setiap tahunnya diperingati hingga kini.

Momen ketika perjuangan bangsa ini mengusir penjajah dari Bumi Pertiwi, dengan selamat sentosa mengantarkan Bangsa Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaannya. Lantas, apa jadinya ya seandainya Indonesia tidak pernah dijajah? Apa yang terjadi hari ini ya? Apa kita sudah merdeka? Jika tidak pernah dijajah.

Seandainya dulu bangsa Eropa tidak keranjingan rempah-rempah, mungkin mereka tidak terlalu agresif menemukan rempah-rempah. Tidak datang ke Nusantara. Mungkin tidak ada nama Indonesia. Bayangkan, sejak Konstantinopel runtuh. Bangsa Eropa harus mengelilingi Benua Afrika lalu ke Timur untuk menemukan Dunia Baru, ke Nusantara, surganya rempah-rempah.

Bayangkan sejarah tersebut tidak ada. Tidak ada rempah disini, tidak datang penjajah dan kita (bangsa Indonesia) tidak pernah dijajah.

Dalam studi sejarah, ada yang disebut dengan telaah kontrafaktual histori. Jeremy Black dan Donald M. Macraild dalam buku Studying History, yang dikutip Vice, menjelaskan bahwa telaah histori semacam ini disebut sebagai upaya memproyeksikan sekian kemungkinan yang tidak pernah terjadi, atau seharusnya terjadi, untuk memahami lebih utuh sebuah peristiwa atau sejarah.

Andi Achian, seorang sejarahwan yang memahami metode kontrafaktual sejarah, pernah berdiskusi terhadap hal ini pada Vice. Kamu ingin tahu jika Indonesia tidak pernah dijajah oleh Belanda?

Andi menjelaskan bahwa hal yang mungkin terjadi jika Indonesia tidak pernah dijajah Belanda ialah industrialisasi yang lebih maju dari sekarang. Sejumlah daerah pesisir Indonesia akan sangat berkembang pesat karena perdagangan. Memang pada awalnya perdagangan di kawasan Nusantara sudah berkembang pesat dan memiliki ekonomi yang kuat.

Sudah jelas, datangnya penjajah dari VOC, Hindia Belanda sampai Jepang memang sangat menghambat perdagangan dan ekonomi Nusantara. Tanpa adanya Kolonialisme, Nusantara memang sudah menguasai perdagangan Asia.

Dominasi kolonial lah yang sudah menghambatnya. "Jadi, dengan atau tanpa kedatangan Eropa, sebetulnya Nusantara sudah menjadi bagian jaringan perdagangan dunia,’’ ujar Bondan Kanumayoso, dosen Ilmu Sejarah, Universitas Indonesia kepada GNFI (16/7/). Bondan pernah menerbitkan disertasinya berjudul Nasionalisasi Perusahaan Belanda di Indonesia (2001).

Jadi seperti itulah seandainya Indonesia tidak pernah dijajah. Tidak ada maksud ingin mengingkari sejarah. Namun setidaknya kita jadi tahu bahwa kemungkinan lebih baik bila tidak ada penjajahan di muka Bumi ini. Dengan begitu kita akan berusaha untuk terus menolak penjajah dalam bentuk apapun.

Sabtu, 18 Desember 2021

Nama Negaranya Netherland, Tapi Kok Kita Sebut Belanda?

Nama Belanda sepertinya tidak asing lagi ditelinga bangsa Indonesia. Dalam sejarah Tanah Air, Belanda kita kenal sebagai negara yang telah menjajah Indonesia.

Mungkin telah bertahun-tahun kita mengenal Belanda sebagai nama sebuah negara. Tapi tahukah kamu? bahwa Belanda sesungguhnya bukan nama resmi secara internasional yang dipakai negara itu.

Banyak orang baru menyadari hal ini ketika sedang menonton pertandingan sepakbola internasional. Misalnya Belanda vs Yunani. Di televisi tertera nama Netherlands vs Greece. Nah loh, kok jadi beda banget?

Mengapa orang Indonesia khususnya, menyebut Belanda, Yunani, Mesir. Padahal ketiga nama tersebut memiliki nama lain secara internasional. Misalnya kita mengenal Mesir, tapi dunia internasional mengenal negara asal Mohamed Salah tersebut sebagai Egypt.

Itu karena, bahasa Indonesia merupakan bahasa yang terbuka dan mudah beradaptasi dengan bahasa asing. Artinya, bahasa Indonesia dapat menyesuaikan dengan bentuk (fonologi) bunyi bahasa asing.

Misalkan nama negara berawalan C disesuaikan lafal bahasa Indonesia menjadi K. Seperti Colombia dan Canada menjadi Kolombia dan Kanada.

Tapi bila Netherlands menjadi Belanda memang membingungkan. Dari Mana jalannya?

Netherlands merupakan nama internasional dari Belanda. Masyarakat dunia juga sering menyebutnya sebagai Holland. Bahkan lebih populer Holland daripada Netherlands. Padahal Holland merupakan satu bagian dari Netherlands. Kota-kota besar seperti Amsterdam, Rotterdam dan Den Haag ada di Holland Selatan dan Utara. Seperti halnya masyarakat dunia yang lebih mengenal Bali dibandingkan Indonesia.

Begitupun di Nusantara awalnya juga lebih mengenal nama Holland. Hanya saja pengucapannya bervariasi.

Antara lain, Wolanda (Hikayat Tanah Hitu, 1650), Welanda (Syair Hemop, 1750), Walanda (Warkah Sumatera Barat, 1793-1795), Olanda (Hikayat Maharaja Marakarma, 1844), Holanda (Carita Bangka, 1861), serta Belanda (Majalah Guru, 1931).

Kamu mungkin saja berpikir Holland menjadi Wolanda kemudian jadi Belanda merupakan Cocokologi saja. Padahal tidak juga. Memang kira-kira begitulah bahasa. Sifatnya abritrer alias mana suka. Disesuaikan lidah dari penuturnya.

Tidak ada aturan baku dalam penyebutan nama negara dalam bahasa tertentu. Semuanya dikembalikan pada masyarakat penutur.

Jika ada sebuah negara yang nama internasional sesuai dengan pelafalan bahasa Indonesia, maka tidak ada perubahan. Seperti Iran dan Malaysia.

Kemudian ada nama negara yang ejaannya disesuaikan namun pelafalannya tetap sama. Seperti Irak (Iraq) dan Kosta Rika (Costa Rica).

Lalu Ejaan dan lafal disesuaikan bahasa Indonesia, seperti Prancis (France), Singapura (Singapore) dan Jerman (Germany). Terakhir penyebutan nama negara dengan cara diterjemahkan. Seperti Pantai Gading (Ivory Coast), Selandia Baru (New Zealand) dan Korea Selatan (South Korea).

Dalam kondisi khusus memang penyebutan nama negara dalam bahasa Indonesia memang membingungkan. Belanda (Netherland), Mesir (Egypt) dan Yunani (Greece).

Tentang Belanda sudah dijelaskan di atas. Beda dengan Mesir dan Yunani. Bahasa Indonesia meresap nama kedua negara tersebut dari bahasa Arab. Kedekatan kultural dan sejarah yang menjadi faktornya.

Tidak ada yang salah dengan ini. Justru bangsa Indonesia yang lebih dulu mengenal nama Mesir dan Yunani yang diambil dari bahasa Arab. Dibandingkan Bangsa Barat yang mengenal Egypt dan Greece.

Namun sekali lagi, tidak ada yang salah dalam penyebutan nama negara. Tentu selama itu tidak ada unsur menghina negara atau pihak tertentu.